Rupiah Terus Melemah Rp 14.447,-, Gubernur BI: Karena Transaksi Berjalan Masih Defisit, Presiden dan Menkeu: Karena Faktor Ekternal

Nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini, kembali melemah dan menembus level nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak semakin terpuruk sebesar 73 poin menjadi Rp 14.447 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 14.374 per dolar AS.. Sampai saat ini Presiden Jokowi dan para pejabat negeri selalu memberi alasan penyebab rupiah melemah karena faktor ekternal bukan faktor internal. Tetapi justru pengamat ekonomi atau Gubernur BI mengatakan bahwa jangan harap rupiah membaik bila ekonomi Indonesia masih defisit ataunimpor lebih banyak daripada ekspor. Tampaknya kelemahan ekonomi Indonesia yang membuat rupiah terus terperosok itulah yang menjadi fokus pemerintah bukan terus menyalahkan faktor ekternal.

Adapun sejumlah bank pagi Rabu 25/5 memasang kurs jual di counter di atas Rp14.200 per dolar AS. Bank Mandiri misalnya, mematok kurs jual sebesar Rp14.245 per dolar AS, sedangkan kurs beli sebesar Rp14.020 per dolar AS. BNI mematok kurs jual sebesar Rp14.275 per dolar AS dan kurs beli sebesar Rp14.025 per dolar AS. Sedangkan BCA mematok kurs jual sebesar Rp14.290 per dolar AS dan kurs beli sebesar Rp13.990 per dolar AS. Beberapa hari sebelumnya nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak semakin terpuruk sebesar 73 poin menjadi Rp 14.447 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 14.374 per dolar AS.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudhistira sebelumnya menyebut tingginya gejolak eksternal membuat sentimen-sentimen positif dari dalam negeri sulit mengangkat pergerakan rupiah. Ia bahkan memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan pekan ini dapat menembus Rp14.300 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini mencapai di atas Rp 13.700, lebih disebabkan faktor eksternal.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penyebab pelemahan rupiah karena faktor sentimen dari luar negeri‎ terkait rencana kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini. “Kita tidak melihat ada alasan yang mengkhawatirkan, artinya alasan untuk kemudian membeli dolar AS, kita anggap fundamental masih tetap konsisten baik,” ujar Sri Mulyani di komplek Istana Negara, Jakarta, Senin (5/3/2018). Di tempat yang sama, Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan hal yang sama dengan Sri Mulyani, ‎dimana pelemahan mata uang rupiah karena terkait ucapan petinggi The Fed yang berencana menaikkan suku bunganya. “Ini bukan masalah dalam negeri, dalam situasi seperti ini kita mengharapkan Bank Indonesia melakukan pengendalian (intervensi),” ucap Darmin.

Transaksi defisit

Berbeda dengan Jokowi dan para menterinya, beberapa pengamat ekonomi bahkan gubernur BI menhatakan faktor internal berperanan besar dalam terperosoknya rupiah. Prof Dr Rizal Ramli mengatakan dolar AS sebenarnya menguat hingga Rp 15.000, cuma bank Indonesia sudah intervensi di pasar hingga mencapai US$ 6 miliar.Rizal Ramli mengatakan ada faktor domestik yang memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS “Artinya selain faktor internasional yang penting faktor domestik ini jarang secara jujur dikatakan, apa itu? Sederhana, itu account defisit,” kata Rizal di kediamannya, Jalan Bangka IX, Jakarta Selatan, Senin (23/4/2018). “Ekspor tiga bulan negatif tapi bulan ini naik sedikit, terus service payment itu, kemudian kalau account priamary balance atau keseimbangan primer istilahnya itu juga negatif itu membuka Indonesia, Rupiah makin lama anjlok,” sambungnya.

Demikia juga dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai pelemahan nilai tukar rupia terhadap dolar AS tidak bisa dihindari mengingat transaksi berjalan Indonesia masih defisit. Maklum, komponen terbesar transaksi berjalan banyak berasal dari aktivitas perdagangan internasional. “Jangan mengharapkan sesuatu yang ajaib (pada nilai tukar rupiah) kalau kita tidak bisa jaga ekspor lebih besar dari impor, neraca jasa kita surplus, dan neraca pendapatan surplus,” ujarnya, Selasa (22/5).

BI memperkirakan transaksi berjalan sepanjang tahun ini masih akan defisit sebesar US$23 miliar atau sekitar 2,3 persen dari PDB. Secara teori, Agus mengungkapkan apabila nilai impor lebih besar dari ekspor, maka rupiah akan sulit menguat. Pasalnya, tingginya impor diikuti dengan tingginya permintaan terhadap dolar AS yang digunakan sebagai alat pembayaran internasional. “Intinya, transaksi berjalan tidak boleh defisit,” imbuh dia. Karenanya, Indonesia harus berupaya agar transaksi berjalan menjadi surplus. Misalnya, dengan mendorong ekspor barang nonkomoditas yang bernilai tambah dan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.

Kendati demikian, meskipun transaksi berjalan defisit, nilai tukar rupiah bisa menguat jika mendapatkan aliran modal masuk yang besar dalam bentuk investasi langsung maupun pembelian surat utang. Karenanya, fundamental perekonomian harus terjaga, termasuk di dalamnya inflasi yang stabil. “Kalau inflasi negara lain lebih rendah dari kita (Indonesia), rupiah kita terhadap mata uang negara itu tidak mungkin menjadi lebih kuat,” terangnya. Di saat bersamaan, Indonesia juga perlu menghindari sentimen negatif yang berdampak terhadap pasar keuangan. Misalnya, kejadian terorisme jika tak dikendalikan dengan baik akan berdampak negatif pada pergerakan nilai tukar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s