Ketika PDIP dan FPI Geruduk Media Masa, Apakah Bedanya ?

Saat ini tampaknya hukum dan penegak hukum mulai tidak dipercaya. Setiap ada ketidak puasan hukum rakyat mulai melakukan aksi mereka sendiri. Dalam melakukan aksinya rakyat ada yang anrkis dan ada yang beradab dengan melakukan silaturahmi dan tabayun. Dalam waktu terakhir ini ada dua fenomena menarik dalam dunia sosial dan politik di Indonesia. Ketika sebuah kelompok ormas yang selalu difitnah anarkis, radikal dan antiPancasila saat tidak puas dengan ketidak adilan media masa seperti Kompas melakukan tabayun ke kantor. Tidak seperti yang ditudingkan selama ini, FPI dalam melampiaskan ketidakpuasannya dengan kompas dilakukan dengan cara beradab dan taat hukum. Serombongan pengurus pusat FPI itu melakukan aksi damai dan menganggap hanya silaturahmi dengan mendatangi pimpinan redaksi Kompas dengan damai dan tenang untuk klarigikasi dan berdiakusi secara beradab. Tetapi dalam pemberitaan media disebutkan FPI nggeruduk Kompas.

Tetapi sebaliknya ada sekelompok orang berbaju merah yang mengatasnamakan PDIP, parpol terbesar di negeri ini. Sebaliknya tidak sepetti yang sering diucapkannya. Patpol yang selama ini selalu berteriak aku Pancasila, tidak radikal dan selalu taat hukum justru melakukan tindakan tidak terpuji. Puluhan orang menggeruduk kantor Radar Bogor, dengan melakukan tindakan anarkis, mengobrak abrik alat kantor, meja dan kursi bahkan memukul staf kantor tersebut. Hanya karena membela pimpinannya yang menjabat sebagai penasehat BPIP dianggap menerima gaji yang terlalu tinggi sebanyak 112 juta rupiah. Hal ini membuat marah kader PDIP itu.

Tampaknya Kapolti pernah mengatakan akan menindak semua tindakan persekusi tanpa terkecuali. Bahkan Kapolri akan membackup bawahannya bila penindakan hukum dilakukan tanpa pandang bulu. Rakyatpun menunggu komitmen Kapolri untuk menunjukkan stigma yang selama ini hukum selalu berpihak pada kelompok tertentu.

Ketika PDIP dan FPI Menggeruduk Kantor Media

  • PDIP Geruduk Radar Bogor. Massa simpatisan dan kader Partai Demokrasi Indonesia Pejuangan menggeruduk kantor redaksi Radar Bogor, Gedung Graha Pena, Jalan Abdullah Bin Nuh, Rabu, 30 Mei 2018. Mereka memprotes pemberitaan utama Radar Bogor yang berjudul ‘Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 Juta’. Menurut keterangan seperti yang dilansir VIVA, Rabu sore, sekitar pukul 16.00, massa moncong putih datang dengan emosi yang meledak-ledak. Mereka mengubrak-abrik lobi kantor. Surat kabar harian yang dipajang di ruang lobi tak luput dari kader PDIP yang emosi dengan merobek-robeknya. Bahkan, dari keterangan saksi, ada kader PDIP naik meja lobi sambil berteriak-teriak seraya berorasi. “Jangan cari masalah sama kami, bulan puasa menghina,” ujar kader tersebut. Tak berapa lama, GM Produksi Radar Bogor Aswan Ahmad dan Pemimpin Redaksi Tegar Bagja Anugrah datang menemui untuk menenangkan massa. Pertemuan itu sempat diwarnai hujan makian kader PDIP. Para kader ini pun kemudian penasaran dengan mencari wartawan yang menulis berita ‘Ongkang-ongkang Kaki Dapat Rp112 Juta’. “Dia cari wartawan. Siapa kamu yang nulis, sambil ada yang memukul staf karyawan,” kata salah seorang petugas keamanan, Radar Bogor, Jatnika.
  • FPI Geruduk Kompas. Puluhan massa Front Pembela Islam (FPI) menyambangi kantor Kompas Group di Jalan Palmerah, Jakarta Pusat, Kamis (16/6/2016). Mereka meminta penjelasan atas pemberitaan kompas group atas tayangan razia warteg milik Saeni yang dilakukan Satpol PP Kota Serang Banten. Para pentolan FPI yang dipimpin juru bicara FPI Munarman itu diterima oleh perwakilan Kompas Group yakni harian Kompas, Kompas TV, dan Kompas.com yang dipimpin Widi Kristawan selaku Direktur Humas PT. Kompas Gramedia. Munarman mengaku kedatangannya kali ini untuk melakukan silaturahmi dan komunikasi serta meminta penjelasan pemberitaan kompas group terkait framing kasus warteg di Kota Serang Banten yang dilakukan dengan bombardir informasi negatif dibulan ramadhan. “Soal framing kita juga bisa lah. Tapi yo mbok jangan keterlaluan,” kata Munarman. Munarman meminta agar Kompas tak perlu khawatir dengan kedatangan rombongan FPI bersama para Habib, dan Ustadz. Mantan Ketua Umum YLBHI itu, mengingatkan bahwa kedatangannya semacam alarm bagi kompas agar tidak kebablasan yang berdampak pada kemarahan masyarakat. “Saya kira ini semacam alarm. Jangan sampai ini terjadi seperti kejadian 98, diam-diam lalu masyarakat menjadi marah,” kata dia. Lebih lanjut, Munarman menyarankan agar dalam pemberitaan razia warteg di Kota Serang bisa proporsional, adil dan profesional. “Saya ingatkan lagi, mbok ya jangan lewati garis batas. Dan himbauannya jangan sadis-sadis amatlah, jaga perasaan kami,” tandasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s