Mengapa Orang Pintar Lebih Pilih Prabowo Dibandingkan Jokowi ?

Berbagai survey menunjukkan bahwa pemilih Jokowi mayoritas adalah berpendidikan rendah dibandingkan pemilih Prabowo. Hal ini dikuatkan bahwa dalam berbagai survey di media sosial atau online Prabowo selalu jauh lebih unggul dibandingkan Jokowi. Karena, pengguna media sosial adalah mayarakat yang berpendidikan menengah ke atas. Beberapa pengamat sosial menganalisa bahwa hal itu terjadi karena berbagai faktor. Latar belakang pemilih berpendidikan tinggi biasanya karena mendapatkan akses informasi yang lebih luas dan lebih baik. Selain itu pemilih berpendidikan lebih menggunakan akal sehat dan rasionalitas yang lebih baik. Jokowi lebih tidak disukai pemilih berpendidikan karena media masa dan media sosial cenderung didominasi pencitraan yang berlebihan dan tidak cerdas sehingga tampak justru dianggap membodohi rasionalitas akal sehat masyarakat yang berpendidikan. Sebaliknya pencitraan berlebihan yang dilakukan itu tampaknya hanya bisa membius masyarakat yang berpendidikan rendah yang miskin akses informasi yang faktual. Tetapi tampaknya ada juga sebagian kelompok berpendidikan yang cinta buta. Apapun latar belakang dan kondisi idolanya tidak akan bisa berubah atau berpaling. Kondisi inilah yang ke depan justru pencitraan yang tidak cerdas justru akan menjadi bumerang bagi pencitranya. Justru isu agama dalam memilih pemimpin lebih menjadi latar belakang atau pedoman bagi masyarakat yang berpendidikan. Hal ini terbukti saat Pilkada 2017 isu agama di Jakarta yang didominasi masyarakat berpendidikan menengah ke atas malah menjadi dasar pertimbangan utama untuk memilih seorang pemimpin.

Survei Median: Sebagian Besar Pemilih Jokowi Berpendidikan Rendah

Hasil survei lembaga Media Survei Nasional (Median) menyimpulkan sebagian besar pemilih Joko Widodo, jika pilpres diselenggarakan pada Februari 2018, tidak tamat sekolah dasar (SD). Berbeda dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang sebagian besar pemilihnya memiliki tingkat pendidikan S2 atau S3. “Semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin rendah basis pemilihnya. Nah ini berbeda dengan lawan-lawan lainnya. Seperti Prabowo, semakin tinggi pendidikannya, semakin banyak pemilihnya,” kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun saat jumpa pers di restoran Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2019).

Survei yang dilakukan Median pada 1-9 Februari 2018 itu menempatkan Jokowi sebagai calon presiden dengan tingkat elektabilitas tertinggi. Dari aspek pendidikan, pemilih Jokowi yang tidak tamat SD 40,9 persen, tamat SD 39 persen, tamat SMP 37,4 persen, tamat SMA/SMK 27 persen, tamat S1 13,7 persen, dan tamat S2/S3 10 persen. Sedangkan pemilih Prabowo yang tidak tamat SD 13,7 persen, tamat SD 21 persen, dan tamat SMP 22,8 persen. Kemudian pemilih Prabowo yang tamat SMA/SMK 25,1 persen, tamat S1 34 persen, dan tamat S2/S3 40 persen.

Rico menuturkan, jika dilihat dari aspek pemilih di media sosial, Jokowi juga kalah dari Prabowo. Responden yang tidak memiliki media sosial justru lebih banyak yang mendukung Jokowi. “Begitu juga dalam media sosial. Dari 100 persen, pemilih Pak Jokowi yang memiliki media sosial 29,4 persen, Prabowo 30,5 persen. Tapi yang orang yang tak memiliki media sosial justru banyak yang memilih Pak Jokowi. Tapi lebih banyak yang punya media sosial,” terang Rico. Namun Jokowi masih unggul dari segi pemilih yang beragama Islam dengan persentase 32,6 persen. Begitu pula pemilih penganut agama lain. “Jokowi unggul telak 53,7 persen pada basis pemilih nonmuslim,” ujar Rico.

Survey Populi

Populi Center melakukan survei latar belakang pendidikan pemilih bakal calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto di Pemilu 2019. Hasilnya, responden yang tidak pernah sekolah memilih Jokowi sebanyak 60,7 persen, Prabowo 14,3 persen. Basis massa Jokowi paling banyak masyarakat tamat akademi diploma, sementara basis pemilih Prabowo adalah tamat S1 lebih tinggi, tapi temuan sifatnya indikatif,” kata Peneliti Populi Center, Nona Evita di kantornya, di Komplek Bank Mandiri, Jalan Letjen S Parman, Slipi, Jakarta Barat, Kamis (2/11). Tamat akademi atau diploma memilih Jokowi sebanyak 62,9 persen, sementara Prabowo 37,1 persen. Untuk kategori tamatan S1 atau lebih tinggi, pemilih Jokowi sebanyak 42,6 persen, Prabowo 44,3 persen.

Nona menegaskan, hasil penelitian ini merupakan silang data. Sehingga, margin of error di kisaran 10 sampai 15 persen. Apabila survei para tokoh ini bertarung merebutkan kursi RI1, Jokowi mendapatkan suara yang cukup besar. “Jika diadu melawan Jokowi, Prabowo hanya memperoleh 31,9 persen suara. Sementara, Jokowimendominasi dengan 56,7 persen,” ujarnya. Populi Center mengambil sampel responden sebanyak 1.200 orang. Latar belakangnya, terdiri dari 39,8 persen berpendidikan di bawah SD. 20,2 persen berpendidikan SMP, 30,6 persen SMA sederajat dan 6 persen berpendidikan S1 atau lebih tinggi. Survei dilakukan pada 19 Oktober sampai 26 Oktober di 34 provinsi. Responden dipilih secara acak bertingkat. Kepercayaan survei mencapai 95 persen.

Mengapa Masyarakat Berpendidikan lebih memilih Prabowo

Mengapa masyarakat berpendikan lebih memilih Prabowo, banyak faktor yang mempengaruhinya. Beberapa pengamat sosial politik menganalisa bahwa hal itu terjadi karena berbagai faktor psikososial masyarakat. Latar belakang pemilih berpendidikan tinggi biasanya mendapatkan akses informasi yang lebih luas dan lebih baik. Selain itu pemilih berpendidikan lebih menggunakan akal sehat dan rasionalitas yang lebih baik. Saat ini masyarakat berpendidikan tampaknya lebih terbuka mata dan lebih tajam pendengarannya sehingga lebih banyak mendapatkan akses informasi dari berbagai media. Keterbukaan akses informasi itu membuat semua rekam jejak janji, perilaku dan kerja Jokowi selama ini banyak diketahui dan banyak yang tidak sesuai antara fakta dan berita mainstream. Berbagai isu politik yang sering diarahkan pada Jokowi seperti isu keberpihakan asing dan aseng, serbuan TKA Cina, isu PKI, masalah kavaunya ekonomi, utang menumpuk, kriminalisasi ulama, ketidakadilan hukum pada umat muslim dan berbagai isu panas itu semakin rezim ini keras menyangkal ternyata semakin kuat ketidakpercayaan masyarakat berpendidikan itu muncul.

Jokowi lebih tidak disukai pemilih berpendidikan karena media masa dan media sosial cenderung didominasi pencitraan yang berlebihan dan tidak cerdas sehingga tampak justru dianggap membodohi rasionalitas akal sehat masyarakat yang berpendidikan. Semakin sering lencitraan sederhana, polos dan merakyat itu disebarkan baik melalui berita, foto atau video tetapi justru semakin kuat masyarakat berpendidikan menolaknya. Karena antara fakta dan pencitraan jauh berbeda.

Sebaliknya pencitraan berlebihan yang dilakukan itu tampaknya hanya bisa membius masyarakat yang berpendidikan rendah yang miskin akses informasi yang faktual. Masyarakat yang tidak berpendidikan karena keterbatasan rasionalitas dan keterbatasan informasi seringkali menelan mentah mentah segala info, berita yang didominasi pencitraan yang banyak dilakukan media mainstream. Tetapi tampaknya ada juga sebagian kelompok berpendidikan yang cinta buta. Meski masyarakat berpendidikan itu tahu bahwa pencitraan Jokowi dilakukan berlebihan yang tidak sesuai fakta tetap dianggap berita bohong dan hoax. Seburuk apapun atau sebesar apapun kebohongan atau apapun latar belakang dan kondisi idolanya tidak akan bisa berubah atau berpaling. Fakta tentang serbuan TKA Cina, utang yang melangit, buruknya ekonomi dan berbagai masalah yang ada di negeri ini dianggap berita hoax, kesalahan menteri atau berbagai mekanisme pembelaan diri lainnya.

Kelompok berpendidikan yang memilih Jokowi biasanya berasal dari kelompok non muslim, kelompok Islamofobia, kelompok Islam Liberal, Sekuler, Pluralis atau Syiah, dan partisan atau politikus kelompok parpol pendukung Jokowi. Kelompok ini karena kepentingan individu atau kelompoknya rela mengorbankan rasio, prinsip beragama bahkan rela menjual atau menyelewengkan ayat suci Al Quran demi mendukung Jokowi.

Bagi masyarakat berpendidikan kondisi inilah yang ke depan justru pencitraan yang tidak cerdas justru akan menjadi bumerang bagi pencitranya. Justru isu agama dalam memilih pemimpin lebih menjadi latar belakang atau pedoman bagi masyarakat yang berpendidikan. Hal ini terbukti saat Pilkada 2017 isu agama di Jakarta yang didominasi masyarakat berpendidikan menengah ke atas malah menjadi dasar pertimbangan utama untuk memilih seorang pemimpin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s