Kontroversi dan Misteri Freeport: Pembelian Saham Keluar Mulut Singa Masuk Mulut Buaya. Bank Pemrintah dibatalkan Diganti Swasta.

Kontrak kerja Freeport terus menimbulkan kontroversi dan misteri. Belum hilang kontroversi antara divestasi saham dan penghentian kontrak kerja 2023. Muncul kontroversi baru uaitu pembayaran pembelian saham 51%. Sebelumnya pemerintah berkali kali katakan bahwa uang pembelian diambil dari konsorsium bank pemerintah bukan swasta melalui Inalum, bahkan saat acara ILC (15/7) pihak inalum menegaskan pada rakyat bahwa tidak ada swasta yang terlibat. Tetapi beberapa hari kemudian kementrian BUMN mengubah keputusan kontroversialnya dengan mengatakan bahwa bank pemerintah tidak lagi dilibatkan dalam pembayaran utang tetapi dilakukan swasta. Tampaknya drama freeport yang diklaim sebagai hal yang transparan ternyata banyak hal yang yidak diketahui masyarakat dan berubah secara cepat tanpa alasan yang masuk akal. Bila hal itu terjadi maka Freeport bisa dikatakan keluar mukut singa masuk mulut buaya. Seperti biasa masyarakat sangat antipati dengan utang pada negara China dan hal itulah yang lebih mudah dilakukan pemerintah.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menginstruksikan seluruh bank pelat merah untuk tidak membiayai divestasi saham PT Freeport Indonesia ke PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Sebelumnya, proses divestasi yang akan mengerek porsi saham Inalum menjadi 51,23 persen tersebut dilakukan melalui pembelian saham milik Freeport-McMoran dan hak partisipasi Rio Tinto di Freeport Indonesia.

“Pendanaan untuk Inalum kan banyak tidak hanya untuk akuisisi (saham Freeport) sampai dengan 51 persen. Itu yang ditekankan oleh Ibu Rini (Menteri BUMN Rini Soemarno). Untuk transaksi ini, mungkin kami perlu skala prioritas dari yang lainnya,” Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Gatot Trihargo saat dihubungi cnnindonesia.com, Rabu (18/7)

Secara terpisah, Ketua Himpunan Bank Negara (Himbara) Maryono mengaku telah menerima instruksi Kementerian BUMN. Berdasarkan arahan terakhir, lanjut Maryono, pembiayaan divestasi Freeport akan ditopang oleh bank swasta dan asing. “Ini supaya ada uang masuk dari negara lain dan bisa menambah devisa kita,” ujar Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) atau BTN ini. Lebih lanjut, BTN sejak awal tidak berniat untuk ikut membiayai divestasi tersebut. Pasalnya, perseroan ingin tetap fokus pada pembiayaan perumahaan.

Sebelumnya, Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin menyebutkan bahwa perusahaan telah menerima tawaran kredit senilai US$5,2 triliun atau lebih besar dari nilai divestasi US$3,85 triliun. Dalam konferensi pers pekan lalu, Budi menyebutkan bahwa pembiayaan akan diperoleh dari sebelas bank. Direktur Corporate Banking BNI Putrama Wahju Setyawan menyebutkan bahwa tiga bank pelat merah BNI, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menawarkan pinjaman senilai total US$1,5 miliar kepada Inalum untuk membiayai divestasi tersebut

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s