Pemerintah Akui Infrastruktur Ditunda Tidak Mendesak. Ekonomi Merosot Infrastruktur Digenjot, Sudah Terlambat Rakyat Sudah Terlanjur Menderita

Ketika negara defisit infrastruktur digwnjot keblabkasan demi pencitraan yang terjadi maka ekonomi semakin terpuruk dan rakyat dikorbankan. Ternyata bahyak infrastruktur yang tidak urgen dan belum dibutuhkan secara mendesak. Sayangnya kesalahan itu baru disadari setelah Indonesia kondisi ekonominya terlanjur luluh lantak. Harga BBM, Listrik dan harga2 sulit diyurunkan lagi, utang sulit dibayar, pajak tinggi, pengangguran semakin meninhkat, daya beli lemah, rupiah terperosok akhirnya semuanya yang dirugikan rakyat. Saat infrastruktur yang belum dibutuhkan dipaksakan dibangun akhirnya jalan tol sepi karena mahal dan dijual tidak ada yang berminat. Pemerimtah semakin merugi semakin dalam. Keputusan yang diambil Jokowi untuk menunda pembangunan infrastruktur tampaknya terlambat karena negara sudah semakin kritis ekonominya

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkaji rencana untuk menunda beberapa proyek infrastruktur besar. Alasannya demi mengurangi impor. Sebab, neraca perdagangan Indonesia saat ini masih defisit alias tekor. Defisit karena nilai impor lebih besar daripada ekspor. Menurut Staf Khusus Presiden Jokowi Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika dengan mengurangi impor dan menggenjot ekspor, maka diharapkan neraca dagang RI bisa surplus hingga US$ 4 miliar di akhir tahun ini. Selain itu, dengan impor yang berkurang maka harapannya adalah nilai tukar rupiah bisa kembali menguat terhadap dolar AS. “Proyek infrastruktur yang besar-besar dan tidak mendesak dikaji ditunda untuk mengerem impor,” ujar Erani saat berkunjung ke markas detikcom, Jakarta Selatan, Rabu (25/7/2018).

Sayangnya, Erani belum bisa merinci proyek-proyek mana saja yang bakal ditunda Jokowi. Erani memastikan rencana itu tak akan membuat proyek-proyek tersebut mangkrak. Setelah berkali-kali defisit sejak awal 2018, Neraca Perdagangan RI akhirnya mencatat surplus US$ 1,74 miliar. Nilai ekspor RI pada Juni 2018 mencapai US$ 13 miliar sedangkan impor sebesar US$ 11,26 miliar.

Namun jika dilihat dari awal tahun, neraca perdagangan RI masih defisit karena baru dua bulan surplus, sementara sudah defisit empat bulan. Pemerintah optimistis di akhir tahun neraca dagang akan surplus.

Erani menambahkan, beberapa hal yang dibahas untuk mengejar target itu antara lain cara menggenjot ekspor dan mengurangi impor. “Nanti akan ada caranya bagaimana supaya ekspor bisa lebih tinggi di beberapa sektor industri. Selain itu, nanti kita coba kurangi impor untuk proyek-proyek yang bisa di-hold sementara,” katanya.

Impor Indonesia tinggi karena maraknya proyek infrastruktur di dalam negeri. Banyak bahan baku proyek yang tidak ada di dalam negeri, misalnya produk baja yang harus impor dari berbagai negara salah satunya China. Belum lagi proyek infrastruktur kelistrikan yang bahan bakunya, terutama teknologinya, masih harus beli dari luar negeri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s